Apabila dalam Perkataanku hanya ada DIA dan Pikiranku adalah Hamba-NYA....maka Penglihatanku adalah Penglihatan-NYA, Pendengaranku adalah Pendengaran-NYA.....sedangkan Hatiku adalah Perkataanku Subhanahu.......
Kamis, 02 Agustus 2012
SIAPA SEBENARNYA NABI DAN SIAPA SEBENARNYA RASUL
Bismillahirahmanirrahiim,
Posting ini sebagian kami copas dari : http://ruqyah-online.forumotion.com/t18-beda-nabi-dan-rasul
Dalam Al Quran ada beberapa jabatan yang mulia diberikan Tuhan, Allah SWT kepada makhluk-Nya, seperti antara lain khalifah, rasul, imam dan nabi. Dari beberapa jabatan atau istilah kedudukan ini, umumnya yang banyak disebut adalah nabi dan rasul. Oleh karena itu, wajarlah jika kita bertanya, apa beda rasul dan nabi ini?. Dalam Kamus Istilah Fiqih karangan M. Abdul Mujieb dkk., pengertian menurut istilah, nabi ialah orang yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk dirinya sendiri tanpa berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain. Rasul ialah orang yang menerima wahyu Allah SWT dan berkewajiban menyampaikannya kepada umatnya/umat manusia (hal. 238). Jika pengertian ini kita pakai, maka bagi seorang 'nabi' karena tidaklah dibebani dengan suatu kewajiban untuk menyampaikan wahyu, menimbulkan kesan 'seolah-olah' hanya beliau saja yang akan masuk sorga, sementara umatnya tidak perlu. Lalu, apa beda nabi dengan rasul yang kiranya tepat dengan pengertian dan makna di dalam Al Quran itu sendiri.
Kalau kita lihat dari fungsi kenabian dan kerasulan, saya kira tidak ada bedanya karena missi yang diembannya adalah sama, 'menyampaikan' wahyu dari Allah SWT kepada umat manusia. Untuk ini, kita lihat dari konteks para penyandang jabatan itu sendiri dalam melaksanakan tugasnya. Rasul nampaknya tidak hanya dianugerahkan kepada 'manusia pilihan'-Nya, tetapi juga bisa kepada makhluk-Nya selain manusia, yang utama malaikat dan ada juga jin, bahkan bisa juga makhluk-Nya yang lain seperti hewan. Rasul yang disandang oleh malaikat seperti termuat dalam QS. 22:75; 11:81 dan QS. 6:130). Sementara nabi, tidak ada yang diberikan kepada malaikat dan jin, hanya kepada 'manusia' saja, terbukti dalam QS. 33:40 dengan tegas kenabian yang berasal dari manusia ini sudah tertutup dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW. Jabatan kerasulan dari malaikat tidak tertutup, kan malaikat tetap melaksanakan missi-Nya sampai akhir zaman seperti diutus untuk mencabut nyawa 'anak manusia', memberi rezeki dll. Ya kalau ada 'manusia' ingin mengaku menjadi 'rasul', maka dia harus menjadi malaikat atau jin terlebih dahulu. Jadinya, tidak juga tepat jika kita katakan bahwa Muhammad SAW adalah rasul dan nabi terakhir, karena istilah rasul terakhir itu tidak ada, hal ini sesuai dengan QS. 33:40 ini.
Selama ini, kita mengenal ada 25 (dua puluh lima) orang nabi dan rasul. Tetapi dalam Al Quran, sinyal manusia pilihan yang diangkat sebagai nabi dan rasul, ada yang disebut tegas sebagai nabi dan rasul, ada nabi saja, ada rasul saja, ada sinyal yang hanya yang mendapat wahyu, hamba yang saleh, hamba yang mempunyai kedudukan yang tinggi dll. Ada juga hamba manusia pilihan yang tidak disebut sebagai 'nabi dan rasul' tetapi jabatan lain, seperti khalifah. Contoh, Adam As. tapi tidak disebut sebagai 'nabi' atau 'rasul', hanya dinyatakan sebagai khalifah. Lalu timbul pertanyaan, apakah 'memang' sudah diperlukan fungsi kenabian atau kerasulan waktu Adam As. hidup?. Jabatan khalifah ini, tidak saja dinobatkan kepada Adam As. tetapi juga kepada Nabi Daud As. (QS. 38:26), di samping berfungsi sebagai nabi (QS. 2:247). Jabatan khalifah Adam As. murni sebagai 'kepala rumah tangga', tapi Nabi Daud As. sebagai pimpinan suatu negara dan pemerintahan, mungkin istilah ini yang mau kita contoh, ada 'satu-satu'-nya seorang khalifah.
Contoh lain, dalam Al Quran tentang Zulkifli As, Ilyasa' As dan Zakaria As, tidak ada penegasan sebagai nabi atau rasul atau mendapat wahyu, tapi hanya dinyatakan Allah SWT sebagai orang yang sabar, paling baik, mendapat derajat yang tinggi, saleh dan mendapat rahmat, nikmat. Tetapi, anak Zakaria As., Nabi Yahya belum lahir saja sudah dengan tegas dinyatakan sebagai seorang 'nabi' (QS. 3:39). Sedangkan, Imran As. juga tidak disebut berfungsi sebagai nabi, rasul dll. tapi diabadikan dalam Al Quran, dan mempunyai anak perempuan bernama Maryam. Bunda Maryam bahkan 'tanpa' suami dapat melahirkan seorang anak yang mulia di sisi Allah SWT itulah yang disebut Isa ibnu Maryam, diangkat sebagai nabi dan rasul (QS. 4:171; 19:30 dan 61:6). Begitu pula Nabi Ibrahim As. lebih mendapat penegasan sebagi 'imam' (QS. 16:120), selain penegasan sebagi nabi (QS. 19:41) tetapi berfungsi sebagai rasul tidak dinyatakan dengan tegas (QS. 29:18 atau 57:26). Anehnya, anak Nabi Ibrahim As., dalam Al Quran Nabi Ismail As. dengan tegas dinyatakan sebagai nabi dan rasul (QS. 19:54), sementara saudaranya Nabi Ishaq As. hanya sebagai nabi (QS. 37:112).
Kesimpulan menurut pendapat kami :
Nabi adalah seorang manusia, laki-laki yang "Dipilih" Allah untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia dengan bukti-bukti yang nyata, sebagian diberikannya Kitab Suci, Hikmah dan Sunah (Syariat). Sedang Rasul atau Rasulullah adalah "Utusan Allah" yaitu Roh atau "Cahaya" baik sebagai Malaikat, Roh Manusia, Jin maupun Hewan untuk melaksanakan "Ketentuan Allah" yang diamanahkan kepadanya. Jadi "berkebalikan" dengan pengertian selama ini yaitu bahwasannya "Setiap Rasul tidak selamanya Seorang Nabi, karena Nabi adalah manusia laki-laki sedang Rasul bisa berupa selain manusia yaitu Malaikat, Jin dan Hewan, sedangkan seorang Nabi sudah tentu Rasulullah, karena Nabi yang manusia laki-laki sudah tentu ada Roh dan Jasadnya". Perbedaan yang spesifik adalah bahwa Nabi sudah tentu akan wafat atau meninggal dunia sedangkan Rasul akan selalu "Ada, Hidup dan Dipilih/Ditentukan sesuai dengan Kehendak Allah" untuk melaksanakan "Ketentuan-Nya". W'allahu bi showab.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar